abdillah afandi


Image

Riwayat Hidup Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad

 

Pendahuluan

Kemajuan Jemaat Ahmadiyah yang pesat dan mengagumkan di seluruh dunia menarik serta membangkitkan perhatian umum untuk mempelajari hal ikhwal gerakan yang meluas ini dengan lebih mendalam.

Terutama untuk mengenal keadaan orang yang mendirikan gerakan Ahmadiyah ini. Oleh karena itu saya bermaksud menguraikan secara ringkas dan tegas tentang riwayat hidup pendiri gerakan Ahmadiyah. Supaya, dengan karunia llahi, penjelasan ini akan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang mencari kebenaran, dan menggerakkan hati mereka untuk menyelidiki lebih lanjut, serta meratakan jalan bagi orang-orang yang hendak masuk ke dalam kerajaan Ilahi. Amin.

A h m a d

Pendiri Jemaat Ahmadiyah bernama Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Nama beliau yang asli hanyalah Ghulam Ahmad. Mirza melambangkan keturunan Moghul. Kebiasaan beliau adalah suka menggunakan nama Ahmad bagi diri beliau secara ringkas. Maka, waktu menerima baiat dari orang-orang, beliau hanya memakai nama Ahmad. Dalam ilham-ilham , Allah Ta’ala sering memanggil beliau dengan nama Ahmad juga. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. lahir pada tanggal 13 Februari 1835 M, atau 14 Syawal 1250 H, hari Jumat, pada waktu shalat Subuh, di rumah Mirza Ghulam Murtaza di desa Qadian. Beliau lahir kembar. Yakni beserta beliau lahir pula seorang anak perempuan yang tidak berapa lama kemudian meninggal dunia. Demikianlah sempurna sudah kabar-ghaib yang tertera di dalam kitab-kitab agama Islam bahwa Imam Mahdi akan lahir kembar. Qadian terletak 57 km sebelah Timur kota Lahore, dan 24 km dari kota Amritsar di propinsi Punjab, India.

Keturunan Barlas

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. adalah keturunan Haji Barlas, raja kawasan Qesh, yang merupakan paman Amir Tughlak Temur. Tatkala Amir Temur menyerang Qesh, Haji Barlas sekeluarga terpaksa melarikan diri ke Khorasan dan Samarkand, dan mulai menetap disana. Tetapi pada abad kesepuluh Hijriah atau abad keenambelas masehi, seorang keturunan Haji Barlas, bernama Mirza Hadi Beg beserta 200 orang pengikutnya hijrah dari Khorasan ke India karena beberapa hal, dan tinggal di kawasan sungai Bias dengan mendirikan sebuah perkampungan bernama Islampur, 9 km jauhnya darii sungai tersebut.

Q a d i a n

Mirza Hadi Beg adalah seorang cerdik pandai, karena beliau oleh pemerintah pusat Delhi diangkat sebagai qadhi (hakim) untuk daerah sekelilingnya. Oleh sebab kedudukan beliau sebagai qadhi itulah maka tempat tinggal beliau disebut Islampur Qadhi. lambat laun kata Islampur hilang, tinggal Qadhi saja. Dikarenakan logat daerah setempat, akhirnya disebut sebagai Qadi atau Qadian.

Demikianlah keluarga Barlas tesebut pindah dari Khorasan ke Qadian secara permanen. Selama kerajaan Moghul berkuasa, keluarga inii senantiasa memperoleh kedudukan mulia dan terpandang dalam pemerintahan negara. Setelah kejatuhan kerajaan Moghul, keluarga ini tetap menguasai kawasan 60 pal sekitar Qadian, sebagai kawasan otonomi. Tetapi lambat laun bangsa Sikh mulai berkuasa dan kuat, dan beberapa suku Sikh dari Ramgarhia, setelah bersatu mulai menyerang keluarga ini. Selama itu buyut Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. tetap mempertahankan diri dari serangan musuh. Teapi di zaman kakek beliau, daerah otonomi keluarga ini menjadi sangat lemah, dan hanya terbatas di dalam Qadian saja yang menyerupai benteng dengan tembok pertahanan di sekelilingnya. Daerah-daerah lain telah jatuh ke tangan musuh. Akhirnya bangsa Sikh dapat juga menguasai Qadian dengan jalan mengadakan kontak rahasia dengan beberapa penduduk Qadian, dan semua anggota keluarga ini ditawan oleh bangsa Sikh. Tetapi setelah beberapa hari, keluarga ini diiziinkan meninggalkan Qadian, lalu mereka pergi ke Kesultanan Kapurtala dan menetap disana selama 12 tahun. Setelah itu tibalah zaman kekuasaan Maharaja Ranjit Singh yang berhasil menguasai semua raja kecil, dan beliau mengembalikan sebagian harta benda keluarga tersebut kepada ayah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. yang bekerja dalam tentara Maharaja itu beserta saudara-saudaranya.

Kemudian datanglah bangsa Inggris yang mengalahkan pemerintah Sikh, dan merampas segala kekayaan keluarga ini, kecuali satu daerah Qadian yang amat kecil dibiarkan dalam kepemilikan keluarga tersebut.

Dokumen Tentang Keluarga

Baiklah sekarang kami cantumkan di bawah iini apa yang ditulii oleh Sir Lepel Griffin dalam bukunya The Punjab Chiefs, tentang keluarga Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad :

        “Pada tahun 1530, tahun-tahun terakhir pemerintahan kaisar Babar, Hadi Beg, seorang Moghul dari Samarkand , hijrah ke Punjab dan menetap di daerah Gurdaspur. Ia adalah seorang terpelajar serta bijak, dan diangkat oleh pemerintah menjadi qazi atau magistrate untuk 70 kampung di sekitar Qadian. Dialah yang mendirikan Qadian, dan mula-mula dinamainya Islampur Qazi, yang lambat laun berubah menjadi Qadian. Keluarga ini tetap memegang kedudukan dan pangkat yang pantas serta terpandang dalam pemerintahan hingga beberapa turunan. Hanya waktu pemerintahan Sikh keluarga ini jatuh miskin.”

        “Gul Muhammad dan puteranya yang bernama Ata Muhammad, terus menerus bertempur dengan Ramgarhia serta Kanahaya Misals yang menguasai kawasan-kawasan sekitar Qadian. Akhirnya semua daerah itu lepas dari tangan mereka, dan Ata Muhammad melarikan diri ke Begowal meminta perlindungan pada Sardar Fateh Singh Ahluwalia (buyut kepala suku penguasa kawasan Kapurtala sekarang), dan ia menetap disana selama 12 tahun. Ketika (Maharaja) Ranjit Singh menaklukkan seluruh kawasan Ramgarhia Misal, ia mengundang Ghulam Murtaza kembali ke Qadian dan mengembalikan sebagian warisan kekeyaan nenek moyangnya kepadanya.”

        “Kemudian Ghulam Murtaza dan saudaranya menjadi tentara Maharaja, dan menjalankan tugas-tugas pentingnya di tapal batas Kashmir serta tempat-tempat lainnya.”

        “Pada zaman Nao Nihal Singh dan Darbar, Ghulam Murtaza rutin memegang jabatan (di ketentaraan). Pada tahun 1841, ia dikirim ke daerah Mandi dan Kulu beserta Jenderal Ventura. Pada tahun 1843 ia memimpin tentara yang dikirim ke Peshawar dan dalam kerusuhan di Hazarah ia berjasa besar. Dalam pemberontakan tahun 1848, ia tetap setia pada pemerintah dan bersama saudaranya, Ghulam Muhyiddn, ikut membantu pemerintah. Tatkala Bhai Maharaj Singh sedang membawa pasukannya ke Multan untuk menolong Diwan Mul Raj, waktu itu Ghulam Muhyiddin beserta kepala suku lainnya, Langer Khan Sahiwal dan Sahib Khan Tiwana menggerakan orang-orang Islam, dan dengan tentara Misra Sahib Dayal menyerang kaum pemberontak dan mengalahkan mereka secara total; mengusir mereka sampai ke [sungai] Chenab, disana mereka 600 orang mati tenggelam.”

        “[Ketika Inggris menguasai Punjab], harta benda dan tanah milik keluarga ini dirampas kembali. Hanya satu, pensiun sebesar 700 rupis, dan hak miliik untuk Qadian serta beberapa kampung sekitarnya ditetapkan bagi Ghulam Murtaza serta saudara-saudaranya. Dalam pemberontakan tahun 1857, keluarga ini memainkan peran yang terpuji. Ghulam Murtaza memasukkan banyak orang ke dalam tentara, dan anaknya yang bernama Ghulam Qadir ikut dalam tentara Jendral Nicholson di Trimughat ketika menghancurkan para pemberontak 46 Native Infantry melarikan diri dari Sialkot.”

        “Jendral Nicholson telah memberikan sebuah surat penghargaan kepada Ghulam Qadir yang menyatakan bahwa dalam tahun 1857 keluarganya di Qadian distrik Gurdaspur betul-betul telah membantu dan setia kepada pemerintah, melebih keluarga-keluarga lain di kawasan itu.”1

Ghulam Murtaza adalah seorang tabib yang sangat mahir. Ia wafat pada tahun 1876, dan anaknya Ghulam Qadir senantiasa suka membantu para pejabat pemerintah dan ia mendapat banyak surat penghargaan dari pemerintah. Ghulam Qadir pernah bekerja sebagai superintendant di kantor pemerintah distrik dii Gudaspur. Anaknya meningal waktu kecil, dan ia pungut keponakannya, Sultan Ahmad (putra Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. sendiri-pen), sebagai anak. Ghulam Qadir wafat pada tahun 1883. Mirza Sultan Ahmad pun mulai jadi pegawai pemerintah sebagai asisten wedana, dan sekarang2 menjadi collecteur serta kepala daerah Qadian. Saudara Nizamuddin yang bernama Isamuddin wafat pada tahun 1904, dan waktu pengepungan Delhi, ia menjadi kepala pasukan dalam tentara Hadson Horse, dan bapaknya yang bernama Ghulam Muhyiddin menjabat wedana.

Perlu rasanya disebutkan disini, anak kedua Ghulam Mutaza, bernama Ghulam Ahmad adalah orang yang mendirikan jemaat Ahmadiyah yang mashur ini dalam Islam. beliau lahir pada tahun 1835, dan memperoleh pelajaran serta pendiidikan yang baik. Pada tahun 1891 beliau menda’wakan diri sebagai Imam Mahdi atau Masih Mau’ud menurut agama Islam. Beliau adalah seorang yang pandai dan alim, sehingga perlahan-lahan banyaklah orang yang mengikuti beliau. Dan sekarang Jemaat Ahmadiyah di Punjab serta kawasan-kawasan lainnya di India telah melebihi tiga ratus ribu orang. Mirza Ghulam Ahmad mengarang benyak buku dalam bahasa Arab, Farsi dan Urdu, serta memberikan penjelasan yang benar tentang masalah jihad. Orang-orang berpendapat buku-buku itu sungguh telah menguntungkan orang-orang Islam. Lama beliau mengalami penderitaan karena perlawanan pihak lain. Acapkali beliau diseret ke pengadilan maupun ke dalam perdebatan-perdebatan. Akan tetapi sebelum beliau wafat pada tahun 1908, beliau telah memperoleh kedudukan yang demikian rupa sehingga orang-orang yang menentang pun menghormati beliau.

Pusat golongan ini di Qadian. Disana Anjuman Ahmadiyah telah mendirikan sebuah sekolah dasar dan percetakan yang digunakan untuk menyiarkan ajaran serta berita-berita tentang Jemaat ini. Pengganti Mirza Ghulam Ahmad as. yang pertama adalah Maulvi Nuruddin, yang pernah menjadi tabib terkemuka di Maharaja Kashmir beberapa tahun lamanya.

Keluarga ini mempunyai hak kekuasaan atas seluruh kawasan Qadian dan hak untuk menarik pajak 5 % dari tiga desa yang berdampingan dengan Qadian.

Masa Kanak-kanak

Setelah sejarah ringkas silsilah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ., baiklah sekarang saya terangkan keadaan beliau dimasa kanak-kanak. Sebagaimana telah dijelaskan, Hz. Ahmad lahir pada tahun 1835 ketika ayah beliau sedang jaya dan gembira karena berhasil mendapatkan kembali tanah-tanah pusaka, serta mempunyai kedudukan yang baik di kerajaan Maharaja Ranjit Singh. Akan tetapi Allah Ta’ala menghendaki supaya Hazrat Ahmad mendapat pendidikan dan pemeliharaan dalam suasana yang lebih menarik perhatian beliau kepada-Nya.

Tiga tahun setelah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. lahir, Maharaja Ranjit Singh meninggal dunia, dan kerajaan Sikh mulai melemah. Kejadian ini mempengaruhi keadaan ayah beliau. Dan ketika seluruh Punjab jatuh ke tangan Inggris, tanah-tanah pusaka dirampas kembali. Meskipun ayah beliau membelanjakan puluhan ribu rupis untuk mengambil kembali tanah-tanah pusaka tersebut, tetap tak berhasil. Dan hal ini sangat menyedihkan hatinya. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. sendiri telah menerangkan hal itu dalam sebuah buku beliau sbb :

        “Ayahanda berduka dan bersedih hati karena kekalahan-kekalahan yang dialaminya dalam perkara-perkara untuk mendapatkan kembali tanah-tanah pusakanya. Beliau telah membelanjakan 70.000 rupis dalam perkara-perkara semacam itu, yang kesemuanya tidak berhasil sedikit pun. Kehilangan semua harta pusaka dari tangan kami yang tidak mungkin diperoleh kembali. Kerugian ini sangat menyedihkan ayahanda, dan beliau menjalani hidupnya dengan penuh duka dan penyesalan yang amat dalam. Melihat keadaan ayahanda demikian, saya mendapat gerakan dan kesempatan untuk mengadakan perubahan suci dan sejati dalam diri saya. Pengalaman yang sedih dan pahit dari kehidupan ayahanda menjadi pelajaran bagi saya untuk mencari kehidupan yang suci dan bersih dari kekotoran dunia. Walaupun ayahanda masih memiliki beberapa kampung dan mendapat hadiah tahunan dari pemerintah serta menerima pula pensiun dari dinasnya, namun kesemuanya itu tidak berarti baginya dibandingkan dengan kejayaannya dahulu. Oleh karena itulah beliau selalu sedih dan berduka. Biasanya ayahanda suka mengatakan: “Usaha dan perjuangannya yang telah aku lakukan untuk dunia yang kotor ini aku sudah menjadi wali atau orang suci.”

        Demikian pula beliau sering membaca syair-syair yang menyatakan betapa dalam penyesalan hati beliau atas kehidupannya sendiri yang sebagian besar disia-siakannya dalam urusan dunia belaka. Dan hati beliau berhasrat untuk mendapat rahmat serta karunia Allah.

        Penyesalan beliau– karena tidak mengusahakan apa-apa untuk menghadap ke hadirat Ilahi–makin lama semakin bertambah kuat di hati beliau. Dengan sedih beliau sering berkata: “Sayang aku telah merusak hidupku untuk urusan dunia yang sia-sia belaka.”

Tulisan tentang keadaan ayah beliau tersebut, sewaktu beliau masih kanak-kanak sampai baligh, menyatakan bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan kondisi tertentu sebagai pelajaran dan pendidikan bagi beliau sehingga kecintaan terhadap dunia tidak timbul di hati beliau. Ayah serta kakek beliau pada waktu itu memiliki kedudukan tinggi dan terhormat di masyarakat dunia, dan para pejabat negara sangat hormat serta ta’zim kepada mereka. Tetapi upaya mereka seumur hidup — untuk merebut kemuliaan dan kekayaan dunia sebagaimana yang mereka inginkan menurut hak keluarga itu — akhirnya gagal semua. Hal ini menjadi pelajaran bagi seorang yang hatinya suci dari segala kekotoran, bahwasanya dunia ini tidak kekal dan akhirat-lah yang disukai oleh Allah. Maka Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. pun tidak melupakan pelajaran ini sampai wafat. Walau dunia mencoba menarik beliau dengan berbagai cara untuk menyesatkan beliau dari tujuan, beliau tetap tidak pernah tergoda untuk keluar setapak pun dari jalan yang benar.

Pendek kata, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. sewaktu kanak-kanak telah menyaksikan contoh-contoh yang begitu pahit dalam kehidupan ayah beliau, sehingga kemauan untuk dunia telah padam dari sanubari beliau. Ketika masih kecil sekali, segala keinginan dan cita-cita beliau  ditujukan pada keridhoan Ilahi.

Tuan Syekh Yaqub Ali, pengarang riiwayat hidup Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad., telah mencantumkan suatu kejadian yang amat menarik. Ketika kecil, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. sering mengatakan kepada seorang anak perempuan yang seumur dengan beliau, “Doakanlah, supaya Allah memberi taufik kepada saya untuk shalat.” Perkataan ini menyatakan betapa perasaan suci bergelora dalam sanubari beliau ketika masih kanak-kanak. Dan segala keinginan serta cita-cita beliau  hanya ditujukan kepada Allah Ta’ala semata.

Demikianlah pula hal ini menampilkan anggapan beliau ketika kecil bahwa hanya Allah lah yang dapat menyempurnakan segala keinginan dan yang memberi taufik, juga untuk beribadah. Sejak kecil beliau hidup dalam keluarga yang sama sekali condong kepada dunia belaka. Tetapi beliau  pada waktu kanak-kanak mempunyai keinginan untuk shalat dan percaya bahwa taufik untuk menyempurnakan keinginan itu hanya Allah lah yang dapat memberikannya.

Hal ini membuktikan bahwa keadan semacam itu tidak mungkin timbul dalam sanubari seseorang selain yang hatinya suci dari sentuhan dunia sama sekali, serta yang ditolong oleh Allah untuk mengadakan suatu perubahan agung dan suci di dunia ini.

Masa-Masa Pendidikan

Kejahilan/kebodohan benar-benar dominan ketika Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. lahir ke dunia ini. Orang-orang umumnya tidak memberikan perhatian pada pelajaran dan pengetahuan sedikitpun. Pada zaman pemerintahan Sikh, jarang terdapat orang yang pandai membaca dan menulis. Sebagian besar orang-orang kaya dan terpandang pun buta huruf. Tetapi karena Allah Ta’ala hendak menggunakan beliau  untuk suatu pekerjaan yang sangat agung, maka Dia menanamkan kemauan yang cukup kepada beliau

Berbagai macam hambatan dan keadaan jahiliah zaman itu tidak melalaikan sang ayah dari kewajibannya menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anaknya. Waktu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. masih kanak-kanak, ayah beliau telah mempekerjakan seorang guru bernama Fazal Ilahi untuk mengajar beliau mengaji Al Quran serta beberapa kitab bahasa Farsi (1841). Setelah berusia 10 tahun, dipanggil lagi seorang guru bernama Fazal Ahmad yang amat baik dan benar-benar beragama (1845). Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. sendiri menuliskan bahwa guru itu mengajar beliau beberapa kitab saraf-nahu (gramatika) bahasa Arab, dengan giat dan penuh kecintaan. Setelah beliau as berusia 17 tahun, ditetapkan seorang guru lain bernama Gul Ali Shah, untuk mengajarkan beberapa kitab nahu dan mantik ( logika). Ilmu ketabihan beliau pelajari dari ayah beliau sendiri yang merupakan seorang tabib mahir dan pandai. Pelajaran semacam ini pada zaman itu terpandang cukup tinggi, namun bila dibandingkan dengan kewajiban yang akan beliau emban, hal itu tidak berarti sedikit pun. Kami telah menyaksikan sendiri orang-orang lain yang ikut belajar bersama beliau  dari guru-guru yang sama. Mereka tidak memiliki kepandaian yang luar biasa dan mereka tidak berbeda dengan orang-orang lain yang mendapatkan pelajaran semacam itu. Begitu pun guru-guru yang mengajar beliau  bukanlah alim ulama yang tinggi ilmunya, melainkan hanya menguasai beberapa kitab bahasa Arab serta Farsi saja. Pelajaran yang diberikan kepada beliau  pada waktu itu sama sekali tidak cukup untuk mempersiapkan beliau terhadap kewajiban yang bakal Allah Ta’ala serahkan kepada beliau

Setelah Masa Pendidikan

Ketika Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. selesai menuntut pelajaran, waktu itu pemerintah Inggris sepenuhnya telah menguasai seluruh Punjab. Dan bahaya pemberontakan pun telah padam. Warga India telah mulai bekerja di pemerintah Inggris untuk mendapakan kedudukan dan kemajuan. Para pemuda dari berbagai keluarga telah mulai bekerja di kantor-kantor pemerintah. Dalam situasi demikian, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. yang sama sekali tidak tertarik pada pekerjaan pertanian — atas kehendak ayah beliau — berangkat di kantor Bupati Sialkot. Tetapi sebagian besar waktu beliau digunakan untuk menimba ilmu. Waktu di luar beliau pakai untuk menelaah buku-buku atau mengajar orang lain, berdiskusi tentang agama. Walupun beliau masih muda — waktu itu berusia 28 tahun — karena taqwa dan kesucian amal beliau, para orang tua dari golongan Islam maupun Hindu sama-sama menghormati beliau. Pada waktu itu beliau jarang bepergian, justru suka menyendiri dan menyepi.

Para pendeta Kristen pun pada waktu itu mulai menyebarkan agama mereka di Punjab. Sebagian besar orang Islam tidak dapat menjawab serangan-serangan mereka. Tetapi ketika berdiskusi dengan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad., senantiasa saja orang-orang Kristen mengalami kekalahan dan dari antara pendeta Kristen, mereka yang mencintai kebenaran sangat hormat terhadap beliau . Seorang pendeta Kristen bernama Mr. Butler M.A. yang bekerja di Scoth Mission di kota Sialkot, sering bertukar pikiran dengan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad., dan sangat tertarik pada beliau. Tatkala Mr. Butler hendak kembali ke negerinya, ia datang ke kantor kabupaten Sialkot untuk berjumpa dengan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.. Bupati menanyakan, untuk apa tuan datang ke kantor kami? Dijawab oleh Mr. Butler, bahwa ia datang hanya untuk berjumpa dengan Tuan Mirza Ghulam Ahmad saja. kemudian ia terus pergi ke tempat Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad., dan setelah berbincang-bincang beberapa saat, ia pun pulang.

Ada waktu itu, para pendeta Kristen menganggap kemenangan pemerintah Inggris sebagai kemenangan agama mereka, dan mereka sangat sombong serta karangan-karangan mereka ketika itu menyatakan keinginan mereka untuk memasukkan semua orang Islam ke dalam agama Kristen melalui tangan besi pemerintah. Mereka menggunaan kata-kata yang sangat kotor dan keji terhadap agama Islam dan Nabi Muhammad saw.. Beberapa orang Eropa yang ahli, pernah menyatakan bahwa kemungkinan timbulnya kembali pemberontakan seperti tahun 1857 dapat muncul akibat tulisan-tulisan yang sekeji itu dari kalangan Kristen. Lama sekali para pendeta Kristen berpendirian seolah-olah merekalah yang berkuasa di India, dan bukan pemerintah Inggris. Tetapi akhirnya mereka insyaf juga , bahwa pemeriintah Inggris yang bekuasa di India dan pemerintahan Ratu Victoria tidak ingin mengembangkan agama Kristen dengan tangan besi, dan sama sekali tidak ingin mengganggu agama manapun.

Boleh dikatakan bahwa pergeseran antara orang-orang Islam dan Kristen ketika itu sangat hebat. Para pendeta Kristen suka marah kepada siapa saja yang berani membantah keterangan-keterangan mereka. Meski pun Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. senantiasa menyalahkan keterangan-keterangan Kristen, tetapi pendeta Butler M.A. sangat tertarik pada kesucian, ketaqwaan dan keikhlasan beliau . Sekali pun Mr. Butler mengetahui bahwa ia tidak akan dapat menarik Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. dan malahan ia sendiri yang akan tertarik oleh keterangan-keterangan yang jitu dari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad., namun ia tidak mampu menjauhkan diri dari beliau . Mr. Butler benar-benar tertarik pada kesucian dan ketaqwaan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. dan ketika hendak pulang ke negerinya, ia menyempatkan waktu untuk berjumpa dengan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. terlebih dahulu.

Behenti Bekerja

Hampir 4 tahun lamanya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. bekerja di Sialkot dengan memaksakan diri. Namun akhirnya setelah mendapat izin dari sang ayah, beliau  minta berhenti dari pekerjaan beliau dan pulang dari Qadian.

Berdasarkan perintah sang ayah, beliau  bekerja harus mengikuti perkara-perkara pengadilan tanah pusaka keluarga, namun hati beliau sama sekali tidak tertarik pada hal-hal semacam itu. beliau  sangat patuh dan tunduk terhadap perintah orang-tua beliau. Beliau tidak mau membantah perintah sang ayah. padahal beliau sendiri tidak senang terhadap pekerjaan itu. Seringkali setelah kalah dalam suatu perkara beliau pulang dengan air muka yang berseri-seri, sehingga orang-orang menganggap beliau  telah menang dalam perkara tersebut. Tatkala beliau  menerangkan bahwa beliau kalah dalam perkara itu, orang-orang bertanya, mengapa Tuan begitu gembira? Beliau as menjawab, “Saya telah berupaya tetapi terjadi apa yang telah dikehendaki oleh Allah Ta’ala, dan dengan selesainya perkara ini saya mendapat kelonggaran waktu untuk mengingat Allah Ta’ala.”

Itulah masa yang sangat sukar dan ganjil bagi Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.. Sang ayah menghendaki beliau  mengurus tanah-tanahnya atau mencari pekerjaan lain, sedangkan kedua hal itu tidak beliau sukai. Oleh karenanya, sering beliau  dicela atau dimarahi, tetapi ketika ibu beliau masiih hidup, sang ibu senantiasa melindungi beliau . Setelah ibu beliau wafat, beliau  sering menanggung kemarahan serta celaan dari kakak dan ayah beliau, sebab mereka menganggap beliau  tidak suka bekerja untuk penghidupan hanya karena malas.

Ayah beliau sering mengatakan dengan sedih, “Bagaimanakah anakku ini akan memperoleh penghidupannya, dan juga sangat sedih kalau nanti untuk keperluan hidupnya ia memerlukan pemberian kakaknya saja.” Melihat Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. siang malam hanya membaca buku saja, sang ayah sering gusar hati, dengan menamakan beliau maulvi (kiai) sang ayah mengatakan: “Dari mana pula maulvi yang satu ini telah muncul di rumah kita ?”

Walau pun begitu, sang ayah sangat terkesan oleh kesucian dan ketakwaan beliau . Apalagi ketika merasakan dan teringat akan kekalahan dalam usaha-usaha duniawinya. Sang ayah gembira juga melihat beliau  begitu giat dalam keagamaan dengan mengatakan, “Inilah sebenarnya pekerjaan yang tengah dikerjakan oleh anakku ini.” Disebabkan ayah beliau seumur hidup berjuang hanya untuk dunia saja, maka rasa penyesalan sering mempengaruhi Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.. Tetapi hal itu sama sekali tidak menghalangi beliau  dari tujuan yang sebenarnya. Bahkan as. sering membacakan Alquran dan Hadis bagi ayah beliau.

Itulah suatu kondisi yang amat menakjubkan, bapak dan anak asyik dalam suatu tujuan yang berlainan, masing-masing hendak menarik yang lain kepada tujuannya. Sang bapak ingin supaya anaknya menyetujui pendiriannya dan berjuang untuk kehormatan serta kekayaan dunia, tetapi sang anak berkeinginan agar bapaknya lepas dari cengkeraman dunia dan masuk dalam kecintaan Ilahi. Pendek kata, keadaan hari-hari itu tidak dapat digambarkan dalam tulisan. Masing-masing hanya dapat dibayangkan dalam sanubarinya.

Sekali lagi beliau  dimintakan untuk menjadi kepala pendidikan di Kesultanan Kapurtala, tetapi itu pun beliau tolak dan lebih suka tnggal di rumah saja, supaya sedapat mungkin menolong sang ayah yang amat sedih itu. Sebagaimana telah dijelaskan, beliau memang tidak menyuka urusan-urusan tanah pusaka itu, tetapi atas perintah ayah beliau dan guna menggembirakan serta menghibur sang ayah yang sudah lanjut usia itu, beliau  dengan giat menjalankan perkara-perkara tersebut tanpa memperhatikan menang kalahnya.

Walau pun Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. menjalankan perkara-perkara tu sekedar untuk membantu ayah beliau, namun hati beliau tetap terkat dalam kecintaan Ilahi. Misi beliau  adalah : “Tangan bekerja, hati tertumpu pada Sang Kekasih.” Setiap selesai urusan perkara-perkara itu beliau  langsung kembali tenggelam dalam ibadah dan zikir Ilahi. Selama bepergian untuk perkara-perkara tersebut, tidak ada satu shalat pun yang tidak beliau kerjakan pada waktunya. Bahkan ketika pengadilan sedang berlangsung, shalat tetap tidak beliau lewatkan dari waktunya.

Sekali peristiwa, beliau  pergi ke pengadilan untuk suatu urusan perkara yang sangat penting dan dapat mempengaruhi perkara-perkara lainnya. Waktu itu hakim sedang memeriksa perkara lain, maka perkara beliau lambat diperiksa. Sementara menunggu giliran perkara beliau, waktu shalat sudah mulai sempit, maka setelah berwudhu beliau langsung shalat di bawah pohon, dengan menyerahkan perkara itu kepada Allah Ta’ala. Ketika beliau  sedang shalat, hakim memanggil nama beliau, tetapi beliau  dengan tenang terus saja mengerjakan shalat beliau dan sama sekali tidak peduli pada hal-hal lain. Menurut peraturan pengadilan, dalam suatu perkara kalau satu pihak tidak hadir bila dipanggil, maka perkara itu akan diputuskan dengan memenangkan pihak yang lain. Maka setelah shalat, beliau  menganggap tentu perkara beliau telah dikalahkan, dan beliau menuju ke ruang pengadilan untuk mendapatkan kabar tentang keputusan perkara tersebut. Kepala pengadilan disitu adalah seorang Inggris. Setelah memeriksa berkas-berkas perkara tersebut, kepala pengadilan itu ternyata telah memutuskan perkara tersebut dengan kemenangan di pihak Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad..

Demikianlah Allah Ta’ala menolong beliau. Dapat dikatakan bahwa beliau  menjalankan tugas itu seperti dipaksakan mengerjakan hal-hal yang tidak beliau sukai. Padahal perkara-perkara itu akan bermanfaat bagi di beliau . Sebab dengan terpeliharanya harta pusaka sang ayah, berarti terpelihara pula harta pusaka bagi diri beliau  sendiri, karena beliau akan mewarisinya. meskipun beliau  cukup cerdas dan cerdik, beliau tetap tidak suka perkara-perkara demikian. Hal itu membuktikan bahwa beliau  sangat tidak menyukai keduniawian dan hanya bertujuan kepada Allah Ta’ala semata.

Rajin Bekerja

Sekali pun beliau  tidak menyukai keduniaan, beliau sama sekali bukan orang yang malas. Justru beliau sangat rajin dan suka bekerja keras. Beliau suka menyepi dan menyendiri, tetapi sedikitpun tidak berarti menjauhkan diri dari kerja keras. Kadangkala bila bepergian, Khadim disuruh menunggang kuda ke depan lebih dulu dan beliau sendiri jalan kaki sampai lebih dari 20 pal hingga ke tujuan. Jarang sekali beliau memakai kendaraan, bahkan sering pergi dengan berjalan kaki saja. Sampai akhir hayat pun beliau biasa berjalan kaki demikian. Walau usia telah lebih 70 tahun dan beliau sering sakit keras, namun hampir tiap hari beliau berjalan kaki empat sampai lima pal. Bahkan kadang-kadang sampai tujuh pal. Sebelum beliau terlalu tua, kadang-kadang sebelum Subuh beliau  berangkat dari rumah ddi Qadian untuk berjalan kaki dan setelah sampai di kampung Wadulah yang terletak lima setengah pal dari Qadian barulah masuk waktu untuk shalat Subuh.

Kewafatan Sang Ayah & Ilham Pertama

Pada tahun 1876 Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad berusia kurang lebih 40 tahun ketika ayah beliau sakit, dan penyakitnya tidaklah begitu berbahaya. Tetapi Allah Ta’ala menurunkan ilham berikut ini kepada beliau as:

        Persumpahan demi Langit yang merupakan sumber takdir, dan demi peristiwa yang akan terjadi setelah tenggelamnya matahari pada hari in3 i.

Beriringan dengan itu kepada beliau diberikan pengertian bahwa ilham ini mengabarkan tentang kewafatan ayah beliau  yang akan terjadi setelah Maghrib. Sebelum ilham ini, sudah lama Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. sering mendapat ru’ya shalihah (mimpi yang benar) yang telah sempurna dengan jelas pada waktunya, dan disaksikan pula oleh orang-orang Sikh dan Hindu yang sebagian masih hidup sampai sekarang. Tetapi sebagai ilham, inilah ilham yang pertama beliau terima , dan dengan perantaraan ilham ini Allah Ta’ala dengan cinta-Nya seolah-olah menyatakan behwa : ayahmu di dunia ini akan wafat sekarang, dan mulai hari ini Aku dari Langit akan menjadi ayah bagimu.

Demikianlah ilham pertama yang diterima Hz. Masih Mau’ud as. yang mengabarkan tentang kewafatan sang ayah. Sudah wajar khabar ini membuat hati beliau sedih, bahkan kesedihan itu ditambah dengan kekhawatiran tentang siapa yang akan mengurus penghidupan beliau  selanjutnya? Oleh sebab itu Allah Ta’ala memberikan ilham kedua kepada beliau  untuk menenteramkan hati beliau. Baiklah, kejadian itu saya terangkan dalam kata-kata Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. sendiri:

        “Ketika saya diberi khabar oleh-Nya bahwa ayahanda akan wafat setelah matahari terbenam, sebagai manusia hati saya sangat sedih dan gelisah. Sebagian besar penghidupan kami bergantung pada ayahanda. Sebab beliau biasa mendapat pensiun dan hadiah yang agak besar dari pemerintah, yang tentu akan dihentikan setelah beliau wafat. Maka timbullah di dalam pikiran, apa yang akan terjadi setelah ayahanda wafat? Hati merasa khawatir kalau-kalau dalam hari-hari mendatang kami akan menderita kesusahan dan kesukaran. Semua pikiran ini secepat kilat melewati diri saya, tiba-tiba saya rasakan seperti tidur dan menerima ilham yang kedua ini :

Apakah Allah tidak cukup bagi hamba- Nya?

        Dari ilham ini hati saya menjadi teguh, bagai luka parah yang tiba-tiba menjadi sembuh dan pulih karena suatu obat. Setelah mendapat ilham ‘Alaysallaahu bikaafin ‘abdahu’ saya yakin bahwa Allah Ta’ala pasti akan menolong saya. Kemudian saya memanggil seorang warga Hindu penduduk Qadian, bernama Malawa Mal yang hingga kini masih hidup, dan menceritakan semua kejadian itu kepadanya. Lalu saya serahkan tulisan ilham itu kepadanya dan menyuruhnya pergi ke Amritsar minta tolong Hakim Maulvi Muhammadd Syarif Kalanauri untuk mengukirkan ilham tersebut pada sebuah mata cincin berupa stempel (cap). Untuk menyelesaikan urusan ini saya sengaja memilih orang Hindu supaya ia menjadi saksi tentang khabar ghaib itu. Maka cincin cap itu diselesaikan oleh Maulvi tersebut dengan harga 5 rupis, kemudian oleh Malawa Mal diserahkan pada saya.”

Cincin itu sampai sekarang ada pada saya (Khalifatul Masih II, penulis buku ini-pen.). Pendek kata, pada hari kewafatan beliau., beberapa jam sebelum Maghrib Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang kewafatan ayah beliau. Sesudah itu Allah Ta’ala menenteramkan dan membesarkan hati beliau dengan menerangkan bahwa beliau tidak perlu khawatir, sebab Allah Ta’ala lah yang akan mengatur segala urusan beliau. Pada hari beliau mendapat ilham-iham itu, ayah beliau  pun wafat setelah Maghrib, dan mulailah suatu era baru dalam kehidupan beliau

Harta pusaka ayah beliau berupa rumah-rumah, toko dan tanah-tanah terletak di kota Batala, Amritsar, Gurdaspur dan Qadian. Beliau punya saudara seorang lagi, sehingga hanya dua orang saja yang akan mewarisi harta pusaka ayah beliau. Yakni beliau  berhak mendapat setengah harta pusaka itu yang akan mencukupi keperluan hidup beliau . Tetapi beliau tidak minta harta benda itu dibagi, melainkan apa saja yang diberi oleh kakak beliau, beliau terima dengan rasa syukur dan senang.

Demikianlah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. menganggap sang kakak sebagai pengganti ayah beliau. Tetapi berhubung sang kakak dinas dan tinggal di Gurdaspur, waktu itu beliau  selalu mengalami kesulitan yang berlanjut sampai kewafatan sang kakak. Dapat dikatakan beliau  mendapat cobaan yang berat dalam tahun-tahun itu. Namun beliau  tetap sabar dan teguh menghadapi cobaan tersebut. Hal ini membuktikan bahwa beliau  sangat mulia dan tinggi dalam kerohaniannya.

Walau pun beliau  mampunyai hak sama dalam harta pusaka itu, namun melihat sang kakak sangat cenderung pada keduniaan, beliau  tidak meminta bagian sendiri dan hanya mencukupkan diri dengan pakaian dan makanan saja. Sang kakak pun, karena cinta dan hormat, menurut perasaannya ingin mencukupi keperluan-keperluan beliau . Tetapi sang kakak lebih mencintai keduniaan, sedangkan beliau  sangat tidak menyukai keduniaan. Oleh sebab itu sang kakak menganggap beliau pemalas dan tidak mengenal tuntutan zaman. Malah sang kakak sering mengungkapkan kekesalannya, karena beliau  tidak mau memperhatikan urusan-urusan keduniaan.

Sekali peristiwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. meminta sedikit uang untuk berlangganan sebuah surat kabar, namun meskipun menguasai harta pusaka beliau  sang kakak menolak permintaan itu dengan mengatakannya sebagai pemborosan untuk orang yang tidak mau bekerja dan hanya duduk-duduk saja membaca surat kabar serta buku-buku.

Demikianlah sang kakak tenggelam dalam keduniaan, sehingga tidak mau tahu akan keperluan-keperluan beliau  serta tidak mau memberikan perhatian guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Keadaan itu sangat menyusahkan beliau , tetapi hal yang lebih menyusahkan dari itu adalah, sang kakak jarang tinggal di Qadian. Maka pegawai dan pengurus-pengurus hartanyapun mendapat kesempatan untuk lebih menyusahkan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad..

Mujahidah

Dalam masa itu Allah Ta’ala menerangkan kepada beliau  bahwa untuk mendapatkan nikmat-nikmat Ilahi perlu melakukan mujahidah juga. Yakni beliau  harus berpuasa. Menurut perintah Ilahi ini beliau  berpuasa berturut-turut 6 bulan lamanya. Acapkali makanan yang dikirim untuk beliau telah beliau bagikan kepada fakir miskin. Setelah berbuka puasa, bila beliau  meminta makanan dari rumah, sering ditolak. Karena itu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. mencukupkan hanya dengan sedikit air, atau barang lain semacam itu, dan esok harinya berpuasa terus tanpa makan sahur lebih dahulu.

Pendek kata, pada waktu itu beliau dalam keadaaan mujahiidah yang tinggi, dan beliau menjalaninya dengan penuh kesabaran dan keteguhan. Pada waktu yang amat susah sekali pun beliau  tidak menunjukkan– secara langsung ataupun dengan isyarat — untuk memperoleh bagian dari harta pusaka beliau. Bukan hanya selama hari-hari puasa itu saja, bahkan pada waktu-waktu lainnya pun Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. suka membagikan makanan kepada orang-orang miskin, dan untuk diri sendiri beliau  hanya mencukupkan dengan sekerat roti yang tidak lebih dari 50 gram. Kadang-kadang beliau hanya makan kacang-kacangan yang disangrai, sedangkan makanan beliau dibagikan kepada fakir miskin. Maka banyak para fakir miskin suka tinggal dengan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.. Mereka diperhatikan dan diurus oleh beliau lebih dari keperluan dan kepentingan sendiri — walau pun beliau  sendiri berada dalam kesusahan. Sedangkan kakak beliau hanya bergaul dan bersahabat dengan orang-orang kaya saja.

Tampil di Hadapan Umum

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. mulai mengkhidmati agama Islam dengan mengarang buku yang berisi keterangan-keterangan untuk melawan agama Kristen dan Hindu Ariya. Karangan-karangan beliau diterbitkan juga di surat-surat kabar. Karena karangan-karangan inilah nama Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. populer di masyarakat umum, meski pun beliau sendiri jarang keluar dari ruangan yang kecil dan sunyi itu. Malah para tamu sering beliau terima di dalam mesjid, atau suka berdiam di rumah saja. Pada waktu tu nama Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. telah mulai dikenal dan tersiar, tetapi beliau sendiri tidak tampil di hadapan umum, dan tetap dalam suasana yang sunyi dan terpisah itu.

Ketika Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. tengah menjalankan mujahidah tersebut, Allah Ta’ala sering memberi ilham kepada beliau yang mengandung kabar-kabar ghaib, dan menjadi sempurna pada waktunya. Hal-hal ini menambah keimanan serta keyakinan beliau maupun rekan-rekan beliau yang diantaranya terdapat juga orang-orang Sikh serta Hindu. Mereka amat heran dan takjub melihat kejadian-kejadian itu.

Mula-mula beliau  memuat karangan dalam surat-surat kabar saja. Tetapi ketika beliau melihat bahwa musuh Islam menyerang dengan lebih hebat dan orang-orang Islam tidak mampu menjawab serangan-serangan itu, hingga ghairat Islam bergolak di dada beliau  Maka berdasarkan ilham dan wahyu Ilahi, beliau bangkit untuk mengarang sebuah buku yang menerangkan perkara-perkara tentang kebenaran agama Islam, yang betul-betul tidak dapat dijawab oleh para musuh Islam untuk selamanya. Tiap-tiap orang Islam dapat mempergunakan keterangan-keterangan itu untuk menjawab segala serangan terhadap Islam. Dengan kemauan dan tujuan itulah beliau  mulai mengarang buku yang terkenal dengan nama Barahiyn Ahmadiyah, yang tidak ada bandingannya dari karangan-karangan orang lain.

Ketika sebagian karangan telah selesai, beliau  menganjurkan agar dicetak, dan atas pertolongan orang-orang yang sangat gemar dan memuji karangan-karangan beliau, dapatlah tercetak bagian pertama berupa suatu pengumuman dan seruan. Bagian yang pertama itu saja telah menggoncangkan dan menggemparkan seluruh negeri. Walau pun bagian pertama itu hanya berupa pengumuman dan seruan, tetapi di dalamnya diterangkan juga hal-hal tertentu untuk membuktikan kebenaran Islam, yang amat menarik dan mendapat pujian dari para pembaca buku tersebut.

Dalam pengumuman itu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. mengemukakan suatu syarat, bahwa keindahan-keindahan Islam yang akan beliau terangkan, jika hal demikian dapat dipaparkan oleh seorang pengikut suatu agama lain dalam agamanya, atau setengahnya saja, atau malah seperempatnya saja sekali pun, maka beliau  akan menghadiahkan seluruh harta pusaka beliau yang berharga 10.000 rupis kepada orang itu. Inilah pertama kali beliau  menggunakan harta pusaka beliau dengan menetapkannya sebagai hadiah demi memaparkan keindahan-keindahan Islam, supaya para pengikut agama lain memberanikan diri tampil melawan Islam, yang akhirnya akan membuktikan keunggulan serta kemenangan Islam.

Bagian pertama buku ini dicetak pada tahun 1880, bagian kedua pada tahun 1881, bagian ketiga tahun 1880 dan bagian keempat pada tahun 1884. Sebelum selesai penulisan seluruh buku ini, Allah Ta’ala telah memberi ilham bahwa beliau akan membela dan menyiarkan Islam dengan cara yang lain lagi. Tetapi apa yang telah ditulis dalam buku tersebut pun cukuplah untuk membukakan mata dunia. Setelah tersiarnya buku itu, lawan mau pun kawan memuji serta yakin akan kecakapan beliau  Tidak seorang pun musuh-musuh Islam dapat menyanggah buku itu. Orang-orang Islam sangat bergembira hati dan mulai menganggap beliau sebagai mujaddid, padahal waktu itu beliau  belum menda’wakan apa-apa. Para alim ulama pun mengaku kepandaian beliau.

Mlv. Muhammad Hussein Batalwi yang memimpin golongan Ahli-hadiis dan Wahabi — pemerintah pun waktu itu menghormatinya — menulis komentar panjang lebar yang memuji buku Barahiyn Ahmadiyah, dan menerangkan bahwa dalam 13 abad sebelumnya, tidak pernah terbit sebuah buku yang membela Islam sedemikian rupa seperti buku tersebut.

Di dalam buku itu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. juga mencantumkan beberapa ilham yang beliau terima, sebagian diantaranya kami paparkan disini supaya dapat terlihat bukti-bukti kebenarannya :

Seorang nabi telah datang ke dunia, namun dunia tidak menerimanya4

        Akan datang kepadamu hadiah-hadiah dari tempat-tempat yang jauh, dan orang-orang banyak akan datang dari tempat-tempat yang jauh5.

Raja-raja akan mencari berkat dari pakaian-pakaianmu6

Ilham-ilham ini telah dicetak dalam Barahiyn Ahmadiyah pada tahun 1884, ketika beliau  masih hidup dalam suasana yang sepi dan terpisah dari dunia ramai. Tetapi setelah terbitnya buku itu, nama Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. mulai tersiar ke seluruh India. Banyak pula yang menaruh harapan bahwa pengarang Barahiyn Ahmadiyah akan membela Islam menjawab segala serangan serta tuduhan yang dilontarkan kepada Islam. Dugaan mereka benar, tetapi Allah Ta’ala mengkehendaki agar hal itu sempurna dengan cara lain.

Kejadian-kejadian berikutnya menyatakan bahwa mereka yang tadinya begitu memuliakan serta menghormati beliau  ternyata merekalah yang menjadi musuh keras beliau, serta berusaha menjatuhkan beliau  Akan tetapi penerimaan diri beliau capai tidaklah bergantung pada pertolongan manusia, melainkan Allah Ta’ala semata lah yang dengan serangan-serangan hebat akan memastikan dan membuktikan hal itu.

Kewafatan Sang Kakak

Pada tahun 1884 kakak Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Mirza Ghulum Qadir yang tidak mempunyai keturunan itu telah wafat. dan beliau  pula yang menjadi warisnya. Tetapi untuk menyenangkan hati janda sang kakak, beliau tidak mengambil harta warisnya. Bahkan atas permintaan janda itu, separuh harta waris beliau  dipindahkan atas nama Mirza Sultan Ahmad yang telah diangkat sebagai anak pungut oleh janda tersebut.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. menyatakan dengan jelas, bahwa menurut Islam tidak ada anak angkat. Tetapi untuk menyenangkan dan menolong janda Mirza Ghulam Qadir itu, beliau  dengan senang hati telah menyerahkan separuh harta pusakanya. Bagian yang separuh lagi pun tidak segera beliau ambil dan lama dipegang oleh sanak keluarga beliau

Satu setengah tahun setelah kewafatan kakak beliau, berdasakan ilham Ilahi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. melaksanakan pernikahan kedua di Delhi. [bersambung]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s