Membedah Kitab ‘Uqud al-Lujjayn Imam Nawawi


Cover Kitab Uqud al-Lujjayn‘Uqud al-Lujjayn Fi Bayani Huquq Al-Zawjayn (Ikatan Dua Gelombang Menjelaskan Tentang Hak-Hak Suami Isteri): Relasi Suami Isteri

‘Uqud al-Lujjayn adalah salah kitab yang tidak asing di kalangan pesantren. Meskipun bukan kita utama yang dikaji di pesantren, kitab ini memiliki arti tersendiri. Biasanya kitab ini dipelajari pada saat-saat tertentu, misalnya, pada pasaran (pesantren kilat) pada bulan Ramadlan atau secara individual para santri yang sebentar lagi hendak membangun rumah tangga biasanya dianjurkan untuk ngaji dulu kitab ini.

‘Uqud al-Lujjayn sendiri artinya bisa ikatan dua gelombang, bisa pula ikatan dua perak. Kedua makna ini mungkin sudah dipertimbangkan oleh Imam Nawawi Banten – demikian penulis kitab ini akrab di sebut di pesantren — saat memberikan nama untuk karyanya tersebut. Dengan arti tersebut dimaksudkan bahwa suami isteri layaknya dua gelombang atau layaknya dua perak yang tentu saja tidak mudah untuk mengikatkannya dan menyatukannya dalam usaha membangun kebersamaan. Metafora dua gelombang atau dua perak bagi suami istri memberikan arti bahwa relasi suami istri adalah setara dan sejajar, yang satu tidak superior atas yang lainnya.

Tetapi setelah kita membaca isinya kesetaraan itu tidak kita temukan. Yang ada adalah ketimpangan di mana laki-laki (suami) superior dan perempuan (istri) inferior. Karena alasan ini pula, kitab ini tidak menjadi kitab muqarrar (referensi utama) di kalangan pesantren.  Menurut K.H. Mustafa Bisri, pimpinan Pesantren Rembang, banyak kyai yang tidak sreg dengan materi kitab ini. Malahan ayahnya, K.H. Bisri Mustofa – semoga Allah merahmatinya — menyatakan kurang setujunya kitab ‘Uqud al-Lujjayn diajarkan, bahkan ia secara kelakar menyatakan bahwa kitab ini membuat lelaki besar kepala.  

Di tengah ramainya gerakan feminisme dan tuntutan akan kesetaraan gender dewasa ini, kitab ini menjadi sorotan banyak kalangan terutama kaum feminisme, karena bagaimana pun kitab ini memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap relasi suami isteri di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Sebuah tim yang terdiri dari Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid (isteri Gus Dur), Husein Muhammad, Lies Marcoes, Attas Hendartini Habsjah, Ahmad Luthfi Fathullah, Safiq Hasyim, Badriyah Fayyumi, Arifh Choiri Fauzi, Juju Juhairiyyah, Djudju Zubaedah, Farhah Ciciek, Faqihudin Abdul Kodir melalui Forum Kajian Kitab Kuning (FK3) melakukan penelitian selama tiga tahun dan hasilnya diterbitkan bersama LkiS dengan judul, Wajah Baru Relasi Suami-Isteri Telaah Kitab ‘Uqud al-Lujjayn.

‘Uqud al-Lujjayn adalah karya seorang ulama yang sangat terkenal di Indonesia dan di dunia. Nama lengkap pengarangnya adalah Abu Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi yang populer dengan sebutan Syaikh Nawawi al-Jawi al-Bantani asy-Syafi’i. Di pesantren disebutnya Imam Nawawi Banten. Beliau dilahirkan di Tanara, Serang, Banten pada 1230 H/1813 M. Ayahnya adalah seorang tokoh yang dihormati karena ilmu agamanya. Konon nasabnya bersambung sampai Maulana Syarif Hidayatulloh atau Sunan Gunung Djati.

Dalam suasana penjajahan yang membatasi pergerakan penyiaran Islam, Nawawi belajar dan bermukim di Mekkah dan mengajar di sana. Beberapa muridnya berasal dari Indonesia. Karena pemahamannya yang luas, ia terkenal di dunia Islam. Dan setiap pelaksanaan ibadah haji, beliau menjadi pembimbingya. Karena itu ia disebut sebagai Sayyid Ulama al-Hijaz. Ia dikaruniai tiga orang puteri yaitu, Nafisah, Maryam, dan Rubi’ah. Pada usia menjelang 100 tahun ia menikah lagi dengan Nyai Hamdanah, putri KH. Soleh Darat Semarang yang saat itu berusia 7 sampai 12 tahun, dikaruniai seorang putri bernama Zuhroh. Beliau wafat di Mekkah pada 1316H/1898M dan di makamkan di Ma’la.

Di pesantren ia terkenal bukan hanya karena kitab-kitabnya yang dikaji, seperti Tijan al-Durar, Nur azh-Dzulam, Fath al-Majid, Tafsir al-Munir, Tanqih al-Qawl, Sulam al-Munajat, Nihayah al-Zayn, Kasyifah al-Syaja, Qami’u al-Tughyan, Nashaih al-‘Ibad, Minhaj al-Raghibin tetapi juga karena beliau diketahui sebagai gurunya tokoh kyai besar seperti Kyai Kholil Bangkalan, Hadratus Syaikh KH. M. Hasyim As’ari, KH. R. Asnawi Kudus, Kh. Tubagus Asnawi, dll.

Pemikiran dan ide tidak lahir dari ruang kosong, tetapi lahir dari sosio kultural zamannya. Sebuah karya mencerminkan realitas zamannya. Demikian halnya dengan ‘Uqud al-Lujjayn. Kitab ini ditulis pada tahun 1294 H. ketika beliau berusia kurang lebih 64 tahun. Sudah lebih dari seabad yang lalu. Abad ke-19 relasi laki-laki dan perempuan sangat timpang dan tidak adil. Dominasi kaum laki-laki terhadap perempuan terjadi dalam semua aspek kehidupan. “Sumur, dapur, dan kasur” adalah ungkapan yang umum untuk menggambarkan betapa sempitnya gerak kehidupan perempuan pada saat itu. Peran perempuan hanya berurusan dengan urusan domestik dan tidak diperkenankan berurusan dengan urusan publik. Novel “Siti Nurbaya” karya Marah Rusli yang dikarang pada awal abad ke-20 pun menggambarkan ketidakadilan terhadap perempuan. Bahkan ketidakadilan terhadap perempuan masih berlangung sampai sekarang,

Dengan demikian kita dapat memaklumi ketimpangan relasi yang ada dalam ‘Uqud al-Lujjayn. Apalagi beliau menulis kitabnya menggunakan metode penukilan dari ulama sebelumya yang rentang waktunya hingga lima sampai enam abad yang lalu. Ulama-ulama terdahulu menulis kitab dalam sosio kultural budaya Arab yang patriarkal sehingga kebanyakan bias gender.

Meskipun tidak diungkapkan secara terbuka karena memang waktu itu belum dikenal istilah kutipan, ‘Uqud al-Lujjayn ditulis berdasarkan perkataan para ulama yang terdapat dalam sembilan kitab: az-Zawahir karya Ibn Hajar al-Haytami, Ihya Ulmu al-Din karya al-Ghazali, at-Targhib wa at-Tarhib karya al-Mundziri, al-Jawahir (‘Uqubat ahl al-Kabair) karya Abu Laits as-Samarqandi, al-Kabair karya adz-Dzahabi, al-Jami’ as-Shagir karya as-Suyuthi, Syarh Ghayat al-Ikhtisar (populer dengan nama Matan Abi Suja), Tafsir al-Khazin, dan Tafsir asy-Syarbini al-Khathib.

‘Uqud al-Lujjayn. terdiri dari empat bab. Diawali dengan pendahuluan dan diakhiri dengan penutup. Keempat bab tersebut adalah: kewajiban suami terhadap isteri, kewajiban isteri terhadap suami, keutamaan salat di rumah bagi wanita, larangan melihat lawan jenis. Dalam uraiannya, Syeikh Nawawi mengutip hikayat-hikayat yang menggambarkan pandangan-pandangannya.

Dari kutipan-kutipan yang ada, hal tersebut mencerminkan pemikiran Imam Nawawi perihal relasi suami istri yang timpang dan bias gender. Selain itu, ada beberapa kesimpulan dari beliau sendiri. Misalnya, setelah mengutip beberapa kutipan, beliau menyimpulkan bahwa ada beberapa hal yang memperbolehkan suami memukul isterinya, yaitu: jika isteri menolak berhias dan bersolek di hadapan suami, menolak ajakan tidur, keluar rumah tanpa izin, memukul anak kecilnya yang sedang menangis, mencaci maki orang lain, menyobek-nyobek pakaian suami, menarik jenggot suami (sebagai penghinaan), mengucapkan kata-kata yang tidak pantas seperti bodoh meskipun suami mencaci maki lebih dahulu, menampakkan wajahnya kepada laki-laki lain yang bukan mahramnya, memberikan sesuatu dari harta suaminya di atas batas kewajaran, menolak menjalin hubungan kekeluargaan dengan saudara suami.

Meskipun kesimpulan itu ditempatkan pada bab kewajiban suami terhadap isterinya, tetapi melihat kesimpulan itu secara tidak langsung merupakan kewajiban istri kepada suaminya sehingga suami berhak memukul jika isterinya melanggar kewajiban-kewajiban tersebut. Jika kita perhatikan kesimpulan tersebut, sungguh tidak setara relasi suami dan istri karena tidak ada kewajiban bagi suami untuk berhias dan bersolek, tidak ada kewajiban bagi suami mengikuti ajakan istrinya untuk tidur, tidak ada masalah bagi suami menampakkan wajah kepada wanita lain, memukul anaknya yang masih kecil, tidak apa-apa suami menolak menjalin hubungan kekluargaan dengan saudara istrinya, dll.

Selain itu, Imam Nawawi juga menyatakan bahwa para wanita sebaiknya mengetahui kalau dirinya seperti budak yang dinikahi tuannya dan tawanan yang lemah tak berdaya dalam kekuasaan seseorang. Maka wanita tidak boleh membelanjakan harta suami untuk apa saja kecuali dengan izinnya. Bahkan mayoritas ulama mengatakan bahwa isteri itu tidak boleh membelanjakan hartanya sendiri kecuali dengan izin suaminya. Istri dilarang membelanjkan hartanya karena dianggap seperti orang yang sangat banyak hutang.

Simak pula pernyataannya bahwa isteri wajib merasa malu terhadap suami, tidak boleh menentang, harus menundukan muka dan pandangannya dihadapan suami, taat terhadap suami ketika diperintah apa saja selain maksiat, diam ketika suami berbicara, berdiri ketika suami datang dan pergi, menampakkan cintanya terhadap suami apabila suami mendekatinya, menampakkan kegembiaraan ketika suaminya melihatnya, menyenangkan suami ketika akan tidur, mengenakan harum-haruman, membiasakan merawat mulut dari bau yang tidak menyenangkan dengan misik dan harum-hauman, membersihkan pakaian, membiasakan berhias diri di hadapan suami dan tidak boleh berhias bila ditinggal suami.

Imam Nawawi juga mengutip banyak hadits terutama yang berkaitan dengan kewajiban istri terhadap suami. Misalnya hadits: “Wanita yang durhaka kepada suaminya, maka ia mendapat kutukan Allah Swt, para malaikat, dan seluruh manusia.” “Allah melaknat wanita-wanita yang menunda-nunda ketika diajak suaminya ke tempat tidur. Ia (istri) berkata: nanti saja, sehinga suaminya tertidur nyenyak.” “Seorang istri yang keluar dari rumah tanpa seiizin suaminya akan dilanat oleh segala sesuatu yang terkena sinar matahari hingga ikan-ikan yang ada dii laut.”

Masih banyak hadits-hadits yang dikutip oleh Imam Nawawi. Kurang lebih ada 101 hadits yang dikutip oleh beliau. Berdasarkan penelitian Siti Nuriyah Abdurrahman Wahid, dkk. saya menghitung ada 35 hadits maudhu yang dikutip, 31 hadist dlaif, dan sisanya hadits shahih, hasan, hasan li ghairihi. Selain itu ada beberapa hikayat yang tidak dijelaskan sumbernya untuk memperkuat pandangannya.

Karena banyaknya kutipan hadits meskipun dlaif dan maudhu’ serta hikayat yang meneguhkan pandangannya akan relasi suami istri yang timpang dan menempatkan posisi laki-laki (suami) superior dan perempuan (istri) inferior kita bisa memaklumi kalau beberapa kyai, sebagaimana di sebut di muka kurang sreg mengajarkan kitab ini. Apalagi zaman sekarang di mana pola relasi mengalami perubahan tentu saja relasi suami istri juga mengalami perubahan. Karena itu, jangan sampai terjadi dengan alasan kitab kuning, suami memperlakukan istri seenaknya dan seperti tuan kepada hamba sahaya, seperti kepada tawanan.

Keluarga mawaddah, sakinah, dan rahmah adalah ketika isteri menjadi pakaian bagi suaminya dan suami menjadi pakaian bagi isterinya (QS. 2: 187) Masing-masing saling melengkapi, saling mempercayai, dan saling mengasihi menyayangi. Dalam ayat tersebut al-Qur’an telah menggambarkan menjelaskan relasi suami-istri yang seimbang, setara. Demikian juga relasi suami-istri yang dipraktikkan dalam rumah tangga Rasulullah Saw.

Hubungan suami istri dalam rumah tangga digambarkan oleh Tolhah  Hasan “bukanlah hubungan dominasi antara satu pihak terhadap pihak lainnya, tetapi hubungan yang harmonis dan saling menghormati. (Quraish Shihab, Kado pengantin, 1997: 76)

Kita menghormati Imam Nawawi Banten sebagai ulama besar dan kita mengharapkan berkahnya. Penghormatan kita kepada beliau, salah satunya dengan mengkritisi karyanya ini. Perubahan zaman menuntut kita untuk merubah cara pandang kita. Kaidah ushul Fiqih menyebutkan,“Al-Hukm Yaduru bi taghayyuri al-Amkan wa al-Azman.” Wallaua’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s